





BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Komoditas air tawar yang sejak beberapa waktu lalu sedang naik daun
memiliki daya tarik yang sangat kuat. Lobster air tawar lebih mudah
dibudidayakan, tidak seperti udang galah atau jenis udang tawar lainnya. Harga
jualnya pun selangit. Karena itu, tidak heran jika semakin banyak orang yang
berminat untuk mengembangkan komoditas ini. Lobster memang dianggap sebagai
komoditas udang konsumsi yang mewah dibandingkan dengan udang konsumsi lainnya.
Selain daging yang padat, gurih, empuk, lobster air tawar juga memiliki
kandungan gizi yang sangat tinggi, terutama protein. Bahkan ada sebagian orang
yang meyakini jika daging lobster dapat berkhasiat meningkatkan kemampuan
seksual. Karena itu, komoditas ini tetap banyak diburu konsumen. Saat ini,
lobster air tawar ukuran konsumsi mencapai harga Rp 200.000 – Rp 300.000/kg. Di
Indonesia, hidangan lobster memang masih terbatas di beberapa restoran di
kota-kota besar dan hotel berbintang. Namun permintaan lobster konsumsi tidak
hanya datang dari dalam negeri, tetapi, juga luar negeri. Beberapa negara di
antaranya Jepang, Hongkong, Malaysia, Singapura, Amerika, Jerman dan beberapa
negara Eropa. Walaupun pembudidaya lobster air tawar sudah mulai menjamur,
peluang untuk membuka usaha baru masih terbuka lebar karena sampai saat ini
produksi lobster belum dapat memasok seluruh permintaan yang ada. Lobster air
tawar lebih gampang dibudidayakan dan tidak gampang terserang penyakit.
Pertumbuhannya pun relatif cepat dan memiliki daya telur tinggi. Satu induk
betina bisa menghasilkan 200 butir telur setiap kali kawin. Dalam setahun induk
betina bisa kawin sampai lima kali. Selama ini, kendala utama dalam
pembudidayaan lobster air tawar adalah tidak tersedianya modal yang besar. Hal
itu karena kebanyakan orang beranggapan bahwa usaha lobster air tawar harus
dilakukan secara besar-besaran. Untuk itu, tentu saja membutuhkan dana dan
pasokan induk yang ada di pasaran saat ini masih sangat terbatas. Padahal,
lobster air tawar dapat juga dibudidayakan dalam skala yang lebih kecil dan
sangat gampang dilakukan. Dengan sedikit modal dan kemauan yang kuat, setiap
orang sudah bisa membudidayakan lobster air tawar karena lobster air tawar
dapat dibudidayakan dalam akuarium atau kolam berukuran kecil.
B. KLASIFIKASI LOBSTER AIR TAWAR
Lobster air
tawar merupakan salah satu genus dari kelompok udang (Crustacea) yang hidupnya
hanya di air tawar. Lobster air tawar banyak terdapat di danau, rawa dan
sungai. Di habitat aslinya, jenis udang ini memiliki tempat berlindung seperti
celah-celah bebatuan dan akar pohon. Daerah penyebarannya meliputi Asia dan
Australia, seperti Papua dan Quinsland. 1. Morfologi Lobster Air Tawar Lobster
tidak memiliki tulang dalam dan seluruh tubuhnya ditutupi oleh cangkang yang
terbuat dari zat tanduk. Cangkang ini akan mengelupas secara periodik seiring
dengan pertumbuhan tubuhnya. Tubuh lobster terbagi menjadi dua bagian, yaitu
bagian kepala dan perut. Bagian kepala ditutupi cangkang yang disebut karapak.
Fungsinya untuk melindungi otak,insang, hati dan lambung. Bagian perut yang
terdiri dari enam ruas ini akan berkembang setiap kali mengalami pergantian
kulit atau molting. Bagian kepala dan bagian perut dihubungkan dengan bagian
yang bernama subchepalathorax. Selain itu, lobster air tawar memiliki
bagian-bagian tubuh seperti berikut:
Sepasang antena di bagian depan
kepala yang berfungsi sebagai alat peraba, perasa dan pencium lingkungan
sekitar. Alat ini juga membantu lobster mencari mangsanya.
Sepasang capit yang panjang dan lebar.
Ekor tengah 1
buah yang dilengkapi dengan duri-duri halus yang menyebar di sepanjang
ujungnya.
Ekor samping dua pasang.
Kaki renang 5 pasang
terletak di tubuh bagian bawah dekat ekor yang berfungsi sebagai alat berenang.
Pada induk betina, kaki ini juga berfungsi sebagai alat untuk meningkatkan
kadar oksigen saat sedang membersihkan kotoran yang melekat pada larva.
Kaki jalan 4 pasang terletak di
samping kiri dan kanan tubuhnya.
Sementara itu,
lobster jantan dan lobster betina dapat dibedakan dari tonjolan daging di
pangkal kaki paling belakang. Tonjolan ini merupakan alat kelamin jantan. Alat
kelamin pada lobster betina berupa bulatan yang berada di pangkal kaki ketiga
belakang. Lobster jantan memiliki capit yang lebih besar. Capitnya kecil
warnanya lebih cerah. 2. Makanan Lobster Air Tawar Lobster tidak begitu senang
dengan panas matahari sehingga hidupnya banyak dihabiskan di dalam lubang
persembunyian. Lobster air tawar bergerak sangat lamban pada siang hari, tetapi
akan berubah agresif pada malam hari karena lobster termasuk hewan nocturnal
yaitu hewan yang aktif mencari makan pada malam hari. Makanan lobster antara
lain yaitu biji-bijian, sayuran, lumut, daging segar, cacing dan bangkai
binatang sehingga digolongkan sebagai hewan omnivore.
3. Masa Kawin Lobster Air Tawar Lobster hanya kawin jika telah
menemukan pasangan yang cocok. Meskipun telah bertemu lobster tidak akan
melakukan perkawinan jika tidak cocok. Di habitat aslinya, lobster mulai kawin
saat berumur 1 tahun dan terjadi pada awal musim hujan. Perkawinan biasanya
dilakukan malam hari. Sepuluh hari setelah kawin, telur yang telah dibuahi
induk jantan akan terlihat melekat di bawah perut induk betina. Telur ini akan
menetas 1,5 bulan setelah pembuahan. 4. Pergantian Cangkang ( molting ) Molting
terjadi seiring perkembangan ukuran tubuhnya, sejak masih kecil hingga dewasa.
Namun semakin dewasa, pergantian cangkang akan semakin berkurang. Molting
adalah saat yang paling rawan bagi lobster. Saat itu tubuhnya tidak terlindungi
oleh apapun sehingga sangat lemah dan mudah dimangsa oleh lobster lain. Karena
itu, saat sedang molting lobster akan berdiam diri di dalam lubang
persembunyiannya. Pergantian cangkang dipengaruhi oleh perubahan air dan
makanan. Bila kualitas air jelek, lobster akan malas makan sehingga
pertumbuhannya akan terhambat dan proses molting pun terhambat. Setiap kali
pergantian cangkang, bobot tubuh lobster akan bertambah minimum 50% dari bobot
sebelumnya. Saat molting, lobster juga akan memperbarui bagian-bagian tubuhnya
yang cacat atau patah seperti kaki dan capitnya. Saat molting terjadi, kulit
kepala akan merekah dan pecah karena terdorong oleh pertumbuhan daging baru.
Selanjutnya daging baru akan dilapisi kulit baru yang sangat lunak dan akan
mengeras dalam waktu 24-48 jam.
BAB II
ANALISIS LINGKUNGAN MAKRO
A.
Lingkungan Ekonomi
Analisis manfaat
bisnis ini adalah agar bisnis dapat:
1. Memberikan
kesempatan kerja bagi masyarakat Kegiatan usaha atau bisnis ini dapat
dikerjakan tenaga kerja lokal dan tidak perlu digantikan oleh tenaga kerja
asing.
2. Menggunakan
sumber daya lokal Sumber daya lokal misalnya bahan baku. Lobster air tawar
produk lokal jika dimanfaatkan dengan baik untuk proses produksi jelas akan
meningkatkan perekonomian karena sumber daya lokal ini dapat dijadikan usaha
bagi masyarakat.
3. Menghasilkan
dan menghemat devisa Penggunaan lobster air tawar yang diambil dari produk
lokal berarti mengurangi penggunaan bahan impor dan tentu akan menghemat devisa
negara. Jika lobster air tawar ini sebagian atau seluruhnya untuk pasar ekspor,
maka bisnis ini akan menghasilkan devisa.
4. Menumbuhkan
industri lain Dengan adanya bisnis lobster air tawar ini, diharapkan tumbuh
industri lain baik yang sejenis atau industri pendukung lainnya seperti
industri makanan yang terbuat dari lobster maupun industri yang dihasilkan
akibat dampak positif adanya bisnis ini.
5. Turut
menyediakan kebutuhan konsumen dalam negeri sesuai kemampuan
Dengan adanya
bisnis lobster air tawar ini, kita mendapatkan menu tambahan dalam negeri serta
mengurangi penggunaan impor.
6. Menambah
pendapatan nasional Sudah jelas bahwa dengan tumbuhnya bisnis di dalam negeri
dengan dimanfaatkannya lobster air tawar untuk konsumsi secara baik di dalam
negeri, maka impor lobster maupun input-input yang ada di dalamnya akan
berkurang. Jika ada permintaan ekspor untuk lobster air tawar, bisnis lobster
air tawar akan meningkat dan produsen dapat memenuhi permintaan itu, tentu
bisnis akan menambah pendapatan nasional.
B. Lingkungan
Teknologi
Dalam melakukan
bisnis ini, memerlukan ketelitian dan pengawasan yang baik terhadap lobster air
tawar. Peralatan yang digunakan seperti aerator yaitu pemasok oksigen dan
penjaga kualitas air dalam kolam. Ini sangat diperlukan agar lobster tetap
hidup. Maka harus dipastikan aerator yang digunakan selalu dalam keadaan hidup.
C. Lingkungan
Politik dan Hukum
Perusahaan skala
kecil ini akan beroperasi di jalan Flamboyan Gang kana no 2 daerah Karangasem
karena wilayah ini cukup strategis untuk memelihara lobster air tawar dan
banyak keluarga yang dapat mengurus, merawat dan mengawasi perkembangan
lobster. Jika bisnis ini berdampak positif terhadap ekonomi nasional termasuk
aspek sosialnya, maka diharapkan politik nasional pun jadi baik. Atau
sebaliknya, jika politik nasional masih kacau, maka kondisi seperti ini dapat
secara langsung mempengaruhi bisnis. D. Lingkungan Sosial dan Budaya
Dampak dari
pelaksanaan bisnis ini adalah sebagai berikut: 1. Penciptaan lapangan kerja. 2.
Perubahan tingkat pengetahuan dan perilaku kehidupan. 3. Perubahan pola
kehidupan masyarakat.
BAB III
ANALISIS ASPEK PEMASARAN
A. Pangsa Pasar
Ada dua pangsa
pasar yang dapat menjadi sasaran pemasaran hasil panen lobster air tawar, yaitu
pasar dalam negeri dan pasar luar negeri. 1. Pasar Dalam Negeri Untuk pasar
dalam negeri, permintaan lobster datang dari sesama pembudidaya atau rumah
makan yang menyediakan menu lobster. Lobster yang dibutuhkan sesama pembudidaya
biasanya berupa benih untuk dibesarkan. Bisa juga calon induk atau induk yang
akan dijadikan sebagai modal untuk memulai pembudidayaan. Sementara itu, rumah
makan atau restoran biasanya membutuhkan lobster yang siap dikonsumsi. Rumah
makan yang selama ini meminta pasokan lobster adalah restoran mewah di
kota-kota besar, seperti Jakarta, Surabaya, Bali dan Yogyakarta. 2. Pasar Luar
Negeri Selain pasar dalam negeri, permintaan lobster untuk diekspor pun sangat
terbuka lebar. Permintaan ini biasanya datang dari Negara Jepang, Hongkong,
Malaysia, Singapura, Amerika, Jerman dan beberapa Negara Eropa. Negara-negara
tersebut biasanya meminta lobster yang siap konsumsi bukan calon benih atau induk.
BAB IV
ANALISIS ASPEK TEKNIS
A. Lokasi
Budidaya lobster
air tawar kini menjadi pilihan untuk menambah pendapatan keluarga. Harga
lobster yang tinggi serta perawatannya yang sangat mudah menjadi alsan orang
membudidayakannya. Selain dibudidayakan dalam skala besar, lobster air tawar
pun bisa dibudidayakan dalam skala kecil ( dilakukan di rumah ). Budidaya
lobster skala kecil adalah budidaya yang dilakukan dengan memanfaatkan lahan
atau lokasi di sekitar rumah. Untuk memulai usaha pembudidayaan skala kecil,
minimal dapat menggunakan 5 paket indukan yang terdiri dari 25 ekor betina dan
15 ekor jantan. Kelebihan dari budidaya lobster skala kecil adalah biaya yang
dibutuhkan relatif kecil. Perawatan lobster yang sedang dibudidayakan bisa
dilakukan sendiri, bisa juga bersama dengan anggota keluarga lainnya. Yang
perlu diperhatikan adalah pemilihan induk. Pemilihan induk harus dilakukan
secara cermat, karena induk memegang peranan penting dalam proses pembudidayaan
lobster. Budidaya lobster skala kecil bisa menggunakan lokasi di lingkungan
rumah, baik pekarangan maupun ruangan dalam rumah. Lahan yang dibutuhkan tidak
luas cukup 30-100 m2. Hal ini secara ekonomis tentu lebih menguntungkan karena
tidak membutuhkan biaya untuk pengadaan lahan. Namun, pemilihan lokasi harus
memperhatikan sarana dan prasarana pendukung. Faktor yang harus diperhatikan
adalah lokasi pasar yang dekat, tersedianya sumber air yang bersih dan mudah
mendapatkan makanan. Selain itu, keamanan di lokasi tersebut juga harus
diperhatikan mengingat lobster memiliki nilai jual ekonomis yang tinggi.
B. Pemilihan wadah pemeliharaan
Dalam budidaya
lobster air tawar skala kecil, ada beberapa wadah yang dapat digunakan untuk
memelihara lobster, yang terpenting, wadah tersebut dapat ditempatkan di lahan
yang tidak terlalu luas. Kolam atau wadah dapat berupa akuarium, bak plastik
atau bak fiberglass dan kolam semen. 1. Akuarium Penggunaan akuarium sebagai
wadah pemeliharaan dalam budidaya lobster air tawar skala kecil merupakan
pilihan yang sangat tepat. Bentuk akuarium bisa disesuaikan dengan luas ruangan
yang ada. Pengawasan dan pengontrolan lobster dalam akuarium pun lebih mudah
dilakukan. Selain itu, akuarium bisa dibuat dengan sistem bertingkat. Jumlah
tingkatannya maksimum 3 buah. Kaca yang bisa digunakan untuk membuat akuarium
lobster memiliki ketebalan 0,5 cm.
Akuarium untuk lobster dibuat dengan panjang 1 meter, lebar 0,5 meter
dan tinggi 0,4 meter. Ketinggian maksimum air dalam akuarium 30 cm. akuarium
sebesar ini cukup untuk memelihara satu paket induk ( 5 betina dan 3 jantan ).
Sementara itu, jika yang dipelihara benih, akuarium ini cukup untuk menampung
100 ekor benih ukuran 1 inci. Agar pasokan oksigen dan kualitas air selalu
terjaga, akuarium harus diberi aerator untuk menyuplai oksigen yang dibutuhkan
lobster.
2. Bak Plastik atau Fiberglass Pada prinsipnya, penggunaan bak plastik
sebagai wahana pemeliharaan lobster sama dengan penggunaan akuarium. Bahan
fiberglass lebih tahan daripada kaca akuarium yang mudah pecah. Namun harganya
jauh lebih mahal daripada kaca akuarium sehingga biaya investasi yang harus
dikeluarkan akan lebih besar. Bak plastik yang digunakan minimal memilki
kapasitas 200 liter air. Bak plastik digunakan untuk membesarkan lobster ukuran
1-3 inci.
3. Kolam semen Pembuatan kolam semen membutuhkan biaya yang sangat
besar . Karena itu, dalam budidaya lobster skala kecil, kolam semen hanya
digunakan untuk tempat pemindahan induk dan pembesaran. C. Peralatan pendukung
Dalam budidaya
lobster air tawar skala kecil, dibutuhkan beberapa peralatan pendukung untuk
menunjang keberhasilannya. Berikut beberapa peralatan yang harus disiapkan
terlebih dahulu.
1. Lubang persembunyian Lubang persembunyian mutlak dibutuhkan, karena
secara alami lobster senang bersembunyi dalam ronga-rongga. Lubang ini juga
menjadi tempat berlindung saat lobster molting agar terhindar dari serangan
lobster lain. Sebagai lubang persembuyian dapat digunakan batu bata yang
berlubang. Bisa juga pipa paralon, potongan bambu, kayu-kayu tua yang
berlubang, ijuk atau tali rafia. Tali rafia dan ijuk umumnya digunakan ssebagai
tempat berlindung oleh anak-anak lobster yang baru menetas. Tempat berlindung
anak lobster juga bisa dibuat dari pipa paralon berdiameter 0,5 inci yang
dipotong sesuai dengan panjang benih. Untuk benih ukuran 2 inci bisa digunakan
lubang persembunyian dari pipa berdiameter 1 inci yang dipotong sepanjang 5-7
cm. Sementara itu, untuk induk lobster bisa digunakan pipa dengan lubang
berdiameter 3 inci dan panjangnya disesuaikan dengan panjang lobster.
2. Aerator Aerator berfungsi sebagai pemasok oksigen dan penjaga
kualitas air dalam kolam budidaya lobster. Dalam budidaya lobster air tawar,
aerator mutlak dibutuhkan. Jika dalam waktu 24 jam air yang menjadi tempat
hidup lobster tercemar, otomatis lobster akan mati. Oleh karena itu, harus
dipastikan aerator yang digunakan selalu dalam keadaan hidup. Ada berbagai
macam ukuran dan kapasitas aerator yang tersedia. Pemilihan aerator disesuaikan
dengan jumlah lobster dan luas kolam yang digunakan. Contohnya untuk lima paket
induk ( 40 ekor ) diperlukan 40-60 titik gelembung air dengan daya aerator 40
watt. D. Sumber dan Kualitas Air
1. Sumber air Air Tanah Air tanah sangat cocok untuk membudidayakan
lobster air tawar. Namun, bila digunakan secara langsung kadar oksigennya
sangat kurang. Karena itu, sebelum digunakan sebaiknya diendapkan terlebih
dahulu selama 12 jam agar kadar oksigen yang terlarut di dalamnya meningkat.
Agar proses pelarutan oksigen lebih cepat dapat digunakan aerator. Air PAM Air
PAM memiliki derajat keasaman yang relatif stabil. Namun, air PAM mengandung
zat klorin dan laporit yang tinggi sehingga sangat berbahaya bagi kelangsungan
hidup lobster. Untuk itu, sebelum digunakan air PAM harus didiamkan terlebih
dahulu selama 24 jam agar kaporit dan klorinnya menguap. Jika bau kaporit masih
menyengat dapat ditambahkan potassium tiosulfat ( K2S2O3 ) dengan dosis satu
kristal untuk setiap 30 liter air. Air sungai sungai memiliki pH yang stabil
serta kandungan oksigen yang berlimpah. Bila akan menggunakan air sungai,
berarti lokasi budi daya harus berada dekat dengan bantaran sungai. Namun,
kualitas air juga harus diperhatikan, jangan sampau air tersebut mengandung
limbah. Baik limbah rumah tangga maupun limbah industri.
2. Kualitas Air Kualitas air merupakan salah satu faktor penting dalam
pembudidayaan lobster. Jika kualitas air yang dipakai buruk, maka hasil yang
dicapai tidak akan maksimal, bahkan bisa menyebabkan kematian bagi lobster.
Berikut ini komponen-komponen air yang berpengaruh pada kelangsungan hidup budi
daya lobster air tawar. Derajat keasaman ( pH ) Lobster air tawar cocok
dibudidayakan dalam air dengan tingkat keasaman 6-8. untuk mengetahui tingkt
keasaman air bisa digunakan kertas lakmus, cairan pengukur pH atau pH meter
digital. Jika pH kurang dari 6, bisa dinaikkan dengan menambahkan kalsium
karbonat ( CaCo3 ) sedikit demi sedikit sampai pH nya mencapai angka yang
diinginkan.
pH air juga dapat dinaikkan dengan memasukkan garam atau soda kue.
Sementara itu, jika pH lebih, bisa diturunkan dengan memasukkan daun ketapang
kering hingga berwarna kecoklatan yang menandakan pH telah stabil. pH juga bisa
diturunkan dengan menggunakan asam fosfor. Temperatur Temperatur air yang
sesuai untuk lobster air tawar adalah 20-310C. tinggi rendahnya temperatur air
akan mempengaruhi tingkat perkembangan lobster. Jika suhu terlalu rendah,
lobster akan malas bergerak sehingga perkembangannya akan lambat dan suhu yang
terlalu tinggi bisa menyebabkan kematian lobster. Temperatur air kolam
pemeliharaan lobster yang dapat iukur dengan mencelupkan termometer sampai
kedalaman 30 cm. Semakin tinggi temperatur air, semakin sedikit pula kandungan
oksigen yang terarut di dalamnya. Kadar garam ( salinitas ) Sesuai dengan
namanya, lobster air tawar hanya dapat hidup dalam air tawar. Semakin rendah
kadar garamnya, semakin baik utnuk kelangsungan hidup lobster ini. Lobster air
tawar hanya bisa bertoleransi dengan kadar garam 0-4 ppm atau 3-20 gram/liter.
Jika melebihi angka tersebut, lobster tidak akan bisa hidup. Semakin
kecil ukuran tubuh lobster, semakin kecil pula toleransinya terhadap kadar
garam. Untuk mengetahui kadar garam, bisa digunakan alat penguji salinitas
yaitu salinometer. Amonia Amonia merupakan senyawa racun yang bersal dari
kotoran lobster. Kadar amonia yang bisa ditoleransi sekitar 1,2 ppm. Kadar
amonia bisa diukur dengan menggunakan ammonium test kit. Untuk mengatasi amonia
yang berlebih bisa digunakan garam dapur atau dengan menyedot air bagian bawah.
Air yang dikuras harus diganti dengan air baru yang jumlahnya sesuai. Kadar
oksigen yang terlarut dalam air Sama seperti ikan, lobster air tawar menghirup
oksigen dari dalam air utnuk bernapas. Namun, lobster air tawar lebih toleran
terhadap kadar oksigen yang rendah. Kadar oksigen terlarut dalam air yang bagus
untuk lobster 2-4 mg/liter. Sebenarnya, dalam kadar 0,5 mg/liter pun lobster
masih bisa hidup tetapi mengalami tekanan yang sangat besar. Jika kadar oksigen
yang terlarut sangat kecil, lobster akan berdiri tegak dengan kepala miring.
Lobster juga akan menggerakkan kakinya untuk membuat arus yang akan menaikkan
kadar oksigen di dalam air.setiap perubahan kadar oksigen terlarut dalam air
sebanyak 1 mg/liter, baik naik maupun turunkan membuat loster stres, bahkan
mati. Kadar oksigen terlarut dalam air dapat diukur dengan alat pengukur yang
banyak tersedia di toko alat perikanan.
E. Pembenihan Lobster Air Tawar.
Pembenihan
merupakan proses untuk mendapatkan benih atau anak lobster yang baru.
Pembenihan dilakukan dengan cara mengawinkan induk jantan dengan induk betina
yang telah matang alat kelamin. Benih yang dihasilkan nantinya bisa dijual ke
pembudidaya lain atau dibesarkan. Keberhasilan pembenihan bisa dilihat dari
kualitas dan jumlah anakan yang dihasilkan. Karena itu, perlu kejelian dalam
memilih calon induk dan induk untuk menjamin anakan yang baik pula. 1.
Pemilihan dan Perawatan Calon Induk Induk memegang peranan penting dalam proses
pembenihan, karena hasil anakan dipengaruhi oleh kualitas induk yang dipakai.
Dalam budidaya lobster skala kecil ( rumah tangga ), umumnya peternak memiliki
minimum paket induk yang terdiri dari 25 betina dan 15 jantan.
Pemilihan calon induk Seleksi calon induk sudah dapat dimulai 2-3 bulan
atau panjang tubuhnya mencapai 5 cm. Namun, calon induk yang akan digunakan
minimum harus berusia 6-7 bulan dengan panjang tubuh 12-15 cm. Berikut ini tips
untuk memilih calon indukan yang berkualitas. 1) Pilih calon induk yang
pertumbuhannya paling cepat, dapat dilihat dari bentuk tubuhnya yang lebih
gemuk daripada yang lain. 2) Pilih calon induk yang punya nafsu akan besar. 3)
Pilih calon induk yang gerakannya lincah. 4) Pilih calon induk yang badannya
berwarna cerah. 5) Perhatikan jenis kelamin. Jangan pilih yang banci atau
berkelamin ganda yang ditandai alat kelamin jantan tidak terlalu menonjol dan
warna merah capitnya tidak terlalu cerah. 6) Jangan memilih lobster yang
berkepala besar dan bertubuh kecil karena itu tandanya kurang makan.
Perawatan calon induk Calon
induk yang telah dipersiapkan dipelihara dan dirawat dalam wadah yang terpisah
dengan lobster lain. Pemisahan ini dilakukan agar calon induk lebih gampang
dikontrol dan diawasi perkembangannya, serat agar merasa lebih nyaman. Selain
itu, calon indk jantan dan betina juga dipisah dalam wadah yang berbeda agar
tidak terjadi perkawinan yang tidak diharapkan saat calon induk belum matang
kelamin. Wadah pemeliharaan berupa akuarium berukuran 1 x 0,5 x 0,4 yang diisi
air sedalam 10-20 cm. akuarium ini menampung 8 ekor induk. Selama perawatan,
calon induk diberi makan berupa cacing tanah dan cacing darah. Dosis makanan
yang diberikan per hari adalah 3% dari berat total calon induk. Pemberian
makanan dilakukan 2 kali sehari saat pagi dan sore hari. Untuk menghasilkan
telur yang berkualitas dan meningkatkan daya tetas telur, makanan yang
diberikan mengandung protein tinggi sebesar 25-35%.
2. Mengawinkan Induk Calon induk yang dikawinkan berusia 10-12 bulan
atau saat panjang tubuhnya mencapai 15-17 cm. Induk jantan dan betina yang akan
dikawinkan, disatukan dalam wadah perkawinan berupa kolam atau akuarium yang
berukuran 40 x 40 x 30 cm dengan tinggi air 20 cm. jumlah induk yang ditebarkan
dalam wadah perkawinan adalah induk jantan 3 ekor dan betina 5 ekor. Dalam
wadah perkawinan tersebut diberi tempat persembunyian berupa pipa paralon yang
berdiameter 3 inci dengan panjang sesuai tubuhnya. Karena dalam satu kolam
terdapat 8 ekor induk, maka kolam tersebut diisi dengan 8 buah lubang
persembunyian. Perkawinan biasanya dilakukan pada malam hari. Saat perkawinan
terjadi, lobster jantan akan mengeluarkan sperma dan meletakkannya di dekat
pangkal kaki kedua dari lobster betina. Sperma lobster berwarna putih, agak
menggumpal dan larut dalam air. Setelah kawin, lobster betina akan meninggalkan
induk jantan dan berdiam diri dalam lubang persembunyian. Di dalam lubang
tersebut, induk betina akan mengeluarkan telur secara perlahan-lahan dari alat
kelaminnya yang berada pada pangkal kaki ketiga. Telur tersebut selanjutnya akan
melewati sperma dan menempel di seluruh permukaan perut. Jumlah telur yang
dihasilkan dari induk betina biasanya sekitar 200 butir. Setelah induk
mengeluarkan telur, pindahkan telur secara berhati-hati di dalam kolam
penetasan. 3. Proses penetasan telur Kolam penetasan yang digunakan adalah
akuarium atau kolam dengan ukuran 1 x 1 x 1 m dan ketinggian air 0,5 meter.
Kolam penetasan dapat menampung benih sebanyak 400 ekor atau benih dari 2 induk
betina. Dalam kolam penetasa juga diberi lubang-lubang persembunyian atau
tempat untuk benih-benih menetas. Lubang persembunyian dibuat dari pipa paralon
berdiameter 3 inci.
Pemindahan induk betina harus
dilakukan secara berhati-hati agar telur yang menempel di tubuhnya tidak
berjatuhan. Saat sedang mengerami telur, induk betina sangat malas dan berdiam
diri di lubang persembunyian. Induk betina mengerami telurnya dengan cara
melipat kakinya ke arah dalam. Selama proses pengeraman dan penetasan, suhu
dalam wadah harus tetap dijaga agar selalu stabil, karena telur sangat sensitif
terhadap perubahan suhu. Telur yang sedang dierami induk akan berkembang secara
perlahan-lahan dan akan menetas dalam waktu sekitar 1 bulan. Pada minggu
pertama, telur berbentuk bulat dan masih berwarna kuning. Selanjutnya telur
akan berubah warna menjadi coklat kehitaman dan mulai tampak bagian-bagian
tubuhnya seperti mata dan kaki. Setelah satu bulan, semua bagian tubuh sudah
terbentuk sempurna atau menetas. Dalam waktu 2-3 hari, seluruh benih akan
terlepas dari tubuh induknya. Setelah benih menetas dan terlepas, induk
dipindahkan ke dalam kolam perawatan
induk.
Perawatan dilakukan selama minimum 2 minggu untuk memberi waktu pada
induk melakukan molting sebelum dikawinkan kembali. Untuk menjaga kualitas
benih yang dihasilkan, selama hidupnya induk betina hanya bisa dikawinkan 6
kali. 4. Pemeliharaan Benih Benih yang baru menetas dipelihara dalam kolam
penetasan selama 10 hari. Selanjutnya benih dipindahkan ke kolam pembesaran
benih untuk dipelihara selama 2 bulan. Selama pemeliharan benih, kualitas dan
pasokan oksigen dalam wadah harus selalu diperhatikan dengan baik. Benih tidak
boleh terkena langsung panas matahari karena benih sangat sensitif terhadap
perubahan suhu. Setelah berumur 8-15 hari, benih sudah mulai berbentuk seperti
lobster dewasa yang memiliki cangkang kepala dan cangkang tubuh. Untuk menjaga
kebersihan wadah pemeliharaan 2 minggu sekali harus dikuras dan dibersihkan
total untuk mengantisipasi munculnya bibit penyakit. Saat pengurasan dan
pembersihan benih dipindahkan ke wadah lain.
5. Pembesaran Lobster Air Tawar
Wadah Pembesaran
Dalam pembesaran lobster skala kecil ( rumah tangga ), tidak membutuhkan wadah
atau tempat yang luas. Wadah pembesaran yang digunakan yaitu kolam berukuran 1
x 1 x 1 m dengan ketinggian air dalam kolam 80 cm. untuk tempat persembunyian
digunakan pipa paralon dengan diameter 1-3 inci dengan panjang 5-15 cm.
Kekuatan arerator sekitar 15 watt. Wadah ini 2 minggu sekali harus dikuras agar
lobster terjaga dari penyakit.
Penebaran Benih Benih lobster yang dipelihara untuk dibesarkan adalah
benih yang berukuran sekitar 5 cm. Kolam yang digunakan seluas 1 x 1 x 1 m dan
benih yang ditebarkan sebanyak 20-30 ekor. Penebaran benih tidak boleh terlalu
padat agar perkembangan lobster tidak terganggu.
Perawatan Lobster dalam Masa
Pembesaran Makanan ( pakan ) merupakan faktor yang paling penting dalam masa
pembesaran, karena pertumbuhan lobster dipengaruhi oleh pakan. Lobster makan di
dasar kolam dan makanan yang dipilih adalah makanan yang dapat tenggelam.
Makanan yang dapat diberikan pada lobster pada masa pembesaran seperti: 1)
Sayuran seperti : kangkung, bayam, toge, wortel, buncis dan kol. 2) Umbi-umbian
seperti : singkong, ubi merah dan ubi putih. 3) Daging seperti : daging
bekicot, keong mas, ikan, ayam dan cacing. Pakan ini dicacah kecl-kecil
terlebih dahulu sebelum diberikan kepada lobster. Pakan diberi 2 kali sehari
dengan komposisi 25 % pagi hari dan 75 % malam hari.
Modal
Awal
|
jenis
|
harga
|
Jumlah
harga
|
total
|
Kolam
|
Terpal
6x4 meter
5 buah
|
280.000x5
|
Rp.1.400,000
|
|
Benih
|
25 kg
|
150.000 x25
|
Rp.3.750,000
|
|
pakan
|
15 karung
|
220.000x15
|
Rp.3.300,000
|
|
Alat-alat
|
Blower
Pompa air
Alat-alat
pendukung
listrik
|
150.000x5
500.000 x1
500.000
150x3 bln
|
Rp.750,000
Rp.500.000
Rp.500.000
Rp.450.000
|
|
total
|
Rp.10.650,000
|
Rp.10.650,000
|
Panen sampai
usia 3 bln
|
Hasil
|
Harga jual per
kg
|
Hasil
penjualan
|
untung
|
1 kolam
ditanam 5 kg benih
|
Hasil 1kolam =
25kg
|
Rp. 245.000
|
||
Jumlah kolam
yg ditanam
=5 kolam
|
25kg x 5
=100kg
|
100kgx245.000
|
Rp.24.500,000
|
|
Hasil
penjualan –modal
=untung
|
24.500,000-10.650,000=
Rp.13.850,000
|
Rp.13.850,000
|

















0 comments:
Post a Comment